Festival Budaya Lebong 2026: Bupati H. Azhari, S.H., M.H. Unjuk Aksi Meracik Lemea

Pewarta: Rudhy Muhammad Fadhel

Lebong, PortalBermano.com – Dalam rangka merayakan Hari Kebudayaan Nasional, Pemerintah Kabupaten Lebong bersinergi dengan Balai Budaya Provinsi Bengkulu menggelar perhelatan akbar bertajuk Festival Budaya Lebong 2026. Kemeriahan pesta adat ini berpusat di Taman Ki Karang Nio pada Sabtu (17/10).

Suasana festival kian semarak saat Bupati Lebong, H. Azhari, S.H., M.H., bersama Ketua TP-PKK Kabupaten Lebong, Hj. Dian Rismawati, S.H., M.Kn., naik ke panggung untuk unjuk keahlian kuliner. Sebagai putra-putri asli tanah Rejang, pasangan pemimpin daerah ini tampil penuh kharisma dan semangat dalam memperkenalkan warisan leluhur mereka. Di hadapan ratusan pengunjung yang memadati lokasi, keduanya mendemonstrasikan secara langsung proses pembuatan kuliner autentik Bumi Swarang Patang Stumang, yaitu Lemea dan Sambal Unyai.

 

Di sela-sela aroma harum masakan yang mulai merebak, Bupati Azhari membagikan rahasia turun-temurun dalam mengolah Lemea—kuliner legendaris berbahan dasar fermentasi bambu muda (rebung) khas Rejang. Beliau menjelaskan bahwa potongan ikan mahseer—atau yang akrab di telinga masyarakat setempat sebagai ikan putiak (ikan semah)—baru boleh dimasukkan ke dalam wajan setelah kuah masakan benar-benar mendidih.

“Mengapa ikan baru dimasukkan saat masakan Lemea sudah mendidih? Hal ini dilakukan agar daging ikan yang lembut tidak hancur ketika diaduk. Teknik tradisional ini juga sangat krusial agar masakan dapat mengeluarkan aroma khas Lemea yang harum dan menggugah selera,” ujar Azhari dengan hangat, sembari menjelaskan proses memasak kepada warga dan tamu undangan yang menyaksikan dengan antusias.

 

Festival Budaya Lebong 2026 ini diinisiasi sebagai langkah nyata pemerintah daerah dalam menjaga, merawat, dan merevitalisasi kebudayaan serta identitas lokal agar tetap lestari dan mengakar kuat di tengah derasnya arus modernisasi.

Usai memukau pengunjung dengan demonstrasi memasak kuliner khas Suku Rejang, Bupati Azhari dan Hj. Dian Rismawati, dengan didampingi oleh sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta tamu undangan, melanjutkan langkah menyusuri stan permainan tradisional.

Langkah kaki mereka terhenti di stan alat musik tiup legendaris khas Suku Rejang yang terbuat dari bambu, yaitu Krilu. Tak sekadar mencoba meniupnya, Bupati Azhari juga menyimak dengan saksama penjelasan dari sang maestro setempat, bahkan langsung mempraktikkan teknik pembuatan alat musik tiup tradisional tersebut.

Petualangan budaya sang bupati dan ketua TP-PKK tidak berhenti di situ. Dengan penuh kehangatan dan keakraban, keduanya menjajal berbagai permainan masa lalu. Gelak tawa pecah saat Bupati Azhari menantang perwakilan Kepala Balai Budaya Provinsi Bengkulu untuk beradu ketangkasan dalam perlombaan permainan tradisional.

Meskipun menghabiskan masa kecilnya jauh dari kampung halaman leluhur, Bupati H. Azhari dan Hj. Dian Rismawati membuktikan bahwa ikatan darah dan budaya tidak pernah luntur. Keduanya tampak sangat luwes, fasih, dan sama sekali tidak canggung—baik saat meracik kuliner pekat Suku Rejang maupun saat menghidupkan kembali memori permainan tradisional yang sarat akan nilai-nilai kebersamaan. (RMF-NikBong)

Follow Portal Bermano di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *