Pewarta : Rudhy Muhammad Fadhel.
Lebong. PortalBermano.com – Ini peringatan keras untuk seluruh orang tua atau wali di Kabupaten Lebong. Bagaimana tidak, peristiwa bunuh diri kembali terjadi di Kabupaten Lebong. Padahal, sepekan lalu kejadian serupa juga sempat terjadi di Kelurahan Turan Lalang Kecamatan Lebong Selatan.

Kali ini peristiwa bunuh diri terjadi di salah satu desa dalam wilayah kecamatan Kecamatan Lebong Sakti, pada Kamis (12/9) pukul 06.30 WIB.
Adapun korban pemuda berusia 17 tahun berinisial YM dan masih duduk di bangku kelas XI SLTA.

Kapolres Lebong, AKBP Awilzan melalui Kapolsek Lebong Tengah, IPTU Tulus Wibowo dan PS Kasubsi PIDM Humas Aipda Syaiful Anwar mengatakan, peristiwa gantung diri tersebut pertama kali diketahui oleh ayah korban yakni WN (36), sekitar pukul 06.00 WIB.
Saat itu ayah korban ingin membangun anaknya bangun tidur agar berangkat ke sekolah. Akan tetapi tidak ada respon dari anak korban.
https://portalbermano.com/puluhan-tahun-menanti-akhirnya-ratusan-sertipikat-tanah-diterima-warga-lebong-selatan/
Selanjutnya orang tua korban membuka paksa ruangan kamar melalui jendela dan mendapati korban sudah meninggal dunia dengan posisi tergantung di lobang angin (pentelasi) jendela kamar menggunakan seutas tali kabel tembaga.
Saat itu orang tua korban berteriak histeris dan meminta bantuan tetangga untuk menjebol jendela dan pintu kamar.
“Posisi korban diatas tempat tidur dengan posisi duduk dan sudah meninggal dunia,” ungkapnya.
Menurutnya, penyebab terjadinya bunuh diri belum diketahui. Namun, diduga akibat masalah percintaan. Bahkan, korban sempat meninggalkan sebuah catatan kecil.
Korban ditemukan di lokasi kejadian adanya barang bukti tali kabel tembaga sepanjang 1,75 M dengan diikat dengan paku yang ditancapkan di tembok dengan kedalaman 1,5 cm.
“Kondisi kesehatan korban sebelum terjadi bunuh diri dalam keadaan sehat,” ungkapnya.
Lebih jauh, pihak keluarga menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak untuk dilakukanya autopsi pada korban dengan membuat surat pernyataan tidak dilakukan autopsi pada jenazah.
“Soal motif asmara apa masih kami dalami,” pungkasnya.
Terpisah, pengakuan salah satu kepala sekolahnya tidak menaruh curiga kepada korban. Sebab, di sekolah perilaku korban biasa saja tanpa menimbulkan kecurigaan.
“Tidak ada masalah. Korban di sekolah juga dikenal baik dan periang,” singkatnya.(Alexander)















