H.Azhari,SH.,MH., Genjot Swasembada Pangan, Mengurai Sisi Ekonomis Gerakan Tanam Kedelai

Pewarta : Rudhy Muhammad Fadhel.

Lebong. PortalBermano.com – Langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebong di bawah kepemimpinan Bupati Lebong H. Azhari, S.H., M.H., dalam menggalakkan gerakan budi daya kedelai secara masif kian menunjukkan akselerasi yang signifikan. Pemerintah Kabupaten Lebong gencar mendorong optimalisasi lahan tidur guna mempercepat swasembada pangan melalui budi daya tanaman kedelai. Kebijakan strategis ini digerakkan langsung oleh Bupati Lebong, H. Azhari, S.H., M.H., yang tidak hanya mengimbau masyarakat, melainkan juga mewajibkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk mengelola minimal satu hektare lahan non-rawa atau lahan tidak produktif menjadi kebun kedelai. Langkah taktis yang menyelaraskan program ketahanan pangan daerah dengan Asta Cita Presiden RI ini memicu perbincangan hangat mengenai prospek profitabilitas dan dampak ekonominya bagi para petani lokal.

Mengubah paradigma lama, Bupati Azhari menerbitkan instruksi resmi yang mewajibkan aparatur sipil negara (ASN) dan seluruh jajaran OPD menjadi motor penggerak dengan memanfaatkan pekarangan kantor dan lahan tidur yang selama ini diabaikan. Program yang terintegrasi dengan Program Optimasi Lahan (OPLAH) Non-Rawa ini tidak hanya bertujuan memperkuat ketahanan pangan, melainkan juga dirancang sebagai stimulus ekonomi baru bagi masyarakat bumi Swarang Patang Stumang.Secara makroekonomi, ketergantungan konsumsi kedelai nasional terhadap pasar impor selama ini menjadi tantangan besar. Melalui gerakan lokal ini, Pemkab Lebong berupaya menekan ketergantungan pasokan komoditas dari luar daerah sekaligus menangkap peluang pasar yang masih sangat terbuka luas.

“Komoditas kedelai memiliki potensi ekonomi yang sangat menjanjikan sekaligus pilar penting bagi gizi masyarakat,” ujar Bupati Azhari saat memberikan keterangan resmi kepada awak media PortalBermano.com beberapa waktu lalu.

Kepastian Pasar dan Skema Kemitraan SwastaSalah satu tantangan klasik yang kerap membuat para petani enggan menanam kedelai adalah kecemasan akan anjloknya harga saat panen tiba. Menjawab persoalan tersebut, Pemkab Lebong menerapkan pendekatan ekonomi hulu-hilir dengan menggandeng pihak swasta sebagai mitra strategis.

Dalam program perdana, pihak swasta berkomitmen penuh untuk menyerap seluruh hasil panen petani sesuai dengan harga pasar pasar komparatif. Bahkan, pemerintah daerah menjanjikan nilai tambah (insentif harga) yang jauh lebih tinggi jika kelompok tani bersabar hingga hasil panen mereka lolos proses sertifikasi perbenihan. Pola ini memutus rantai tengkulak yang merugikan dan memastikan adanya kepastian pendapatan (revenue certainty) bagi para petani sejak masa tanam dimulai.Analisis Produktivitas Lahan TidurDari aspek mikroekonomi pertanian, pengoptimalan lahan telantar (idle land) memberikan efisiensi biaya yang besar bagi petani karena mengurangi modal pengadaan lahan baru.

Penggunaan varietas unggul seperti varietas Anjasmoro yang diuji di wilayah Lebong tercatat mampu menghasilkan produktivitas rata-rata hingga 1 ton per hektare.Meskipun secara angka volume terkesan moderat jika dibandingkan komoditas padi, waktu siklus panen kedelai yang relatif singkat (kisaran 85–90 hari) memberikan tingkat perputaran modal (cash-flow turnover) yang cepat bagi kas rumah tangga petani.

Budi daya kedelai juga berkontribusi positif secara ekologis karena akarnya mampu mengikat nitrogen bebas di udara, sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah secara alami dan memangkas anggaran pembelian pupuk kimia untuk musim tanam berikutnya. Sinergi Teknis Menuju Skala Ekonomi Guna memastikan efisiensi modal pertanian tidak terbuang sia-sia akibat gagal panen, Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Lebong mengawal ketat implementasi di lapangan dengan menyinergikan tugas antarlini.

Koordinasi intensif diarahkan bersama Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Lebong untuk mendampingi petani secara teknis—mulai dari distribusi benih berkualitas, pola tanam yang presisi, hingga manajemen pascapanen.Aksi nyata telah ditunjukkan oleh sejumlah instansi, seperti Disnakertrans, BPBD, dan Sekretariat DPRD Lebong yang sukses menyulap area pekarangan kantor mereka menjadi kebun kedelai produktif.

Keberhasilan instansi pemerintah ini diharapkan menjadi role model atau percontohan nyata bagi masyarakat umum bahwa menanam kedelai di Kabupaten Lebong secara ekonomi bukan lagi sebuah spekulasi, melainkan sebuah investasi yang terukur dan menguntungkan. Dengan target penyediaan dan perluasan lahan yang terus dipacu, Kabupaten Lebong diproyeksikan mampu bertransformasi menjadi salah satu sentra produksi pangan utama sekaligus lumbung kedelai baru yang diperhitungkan di tingkat Provinsi Bengkulu Tutup Azhari. (RMF-NikBong)

Follow Portal Bermano di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan