Bupati Lebong H.Azhari,SH.,MH. Bukan Sekadar Pesta ! Pestival Budaya Lebong 2026 Selamatkan Budaya Rejang Purba Dari Kepunahan

Pewarta : Rudhy Muhammad Fadhel

Lebong, PortalBermano.com – Pemerintah Kabupaten Lebong bersiap menggelar Festival Lebong, sebuah perhelatan akbar satu hari penuh yang mengusung konsep panggung budaya masyarakat dari pagi hingga malam. Berpusat di Taman Ki Karang Nio, festival ini dirancang menjadi ruang integrasi budaya guna melestarikan tradisi suku Rejang purba sekaligus menggerakkan partisipasi aktif warga setempat, Dan Luar biasanya Pestival yang mengusung tema “MerawatTradisi, Menguatkan Identitas Budaya” ini akan dibuka langsung oleh Bupati Lebong H.Azhari,SH.,MH.Sabtu 17 Oktober 2026 Lusa.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Bupati Lebong H.Azhari,SH.,MH., melalui kepala dinas Pendidikan dan kebudayaan kabupaten Lebong Indra Gunawan SPi.,MSi., sa’at dikomfirmasi melalui sambungan seluler Kamis (15/10).

Dijelaskan oleh Indra Gunawan,SPi.,MSi., bahwa rangkaian kegiatan dibagi ke dalam tiga sesi utama yang berkesinambungan dan tersebar di empat zona khusus. Zona-zona tersebut meliputi Panggung Utama, Zona 1 (Edukasi Alat Musik Krilu), Zona 2 (Kuliner Tradisional Lemea dan Sambea Unjang), serta Zona 3 (Arena Permainan Tradisional).

Sesi Pagi Yaitu Edukasi Warisan Leluhur dan Pembuatan Alat Musik Langka, Perhelatan budaya ini akan resmi dibuka pada pukul 08.00 WIB melalui serangkaian sambutan dari jajaran panitia, Kepala Dinas Pendidikan dan kebudayaan , hingga Bupati Lebong H.Azhari,SH.,MH., Selepas seremoni pembukaan, perhatian pengunjung akan diarahkan pada sesi demonstrasi kebudayaan yang berlangsung dari pukul 08.30 hingga 12.00 WIB.

Pada sesi ini, masyarakat tidak hanya menonton, tetapi juga dapat berinteraksi langsung dengan para maestro. Di Zona 1, pengunjung disuguhkan proses pembuatan instrumen musik langka, Krilu, langsung dari tangan perajin ahli. Sementara di Zona 2, aroma khas kuliner tradisional mulai tercium lewat demonstrasi pembuatan Lemea dan Sambea Unjang, dua panganan fermentasi legendaris khas Rejang yang kaya nilai sejarah. Setelah jeda istirahat, sholat, dan makan (ISOMA) siang, agenda dilanjutkan dengan Sesi Icip-Icip pada pukul 13.00 WIB, di mana masyarakat dipersilakan mencicipi hasil olahan para maestro kuliner tersebut secara gratis.

Sesi Siang Kegembiraan dan Interaksi Permainan Rakyat, Adalah memasuki paruh kedua hari, festival bergeser ke Zona 3 yang didedikasikan untuk menghidupkan kembali permainan tradisional rakyat. Pukul 13.30 WIB, panitia membuka sesi siang dengan memberikan demonstrasi dan penjelasan mengenai aturan-aturan permainan masa lalu yang kini mulai jarang dimainkan oleh generasi muda.

Puncak partisipasi publik di siang hari terjadi pada pukul 14.00 hingga 17.00 WIB melalui Aksi Permainan Tradisional Partisipatif. Lapangan Taman Ki Karang Nio diproyeksikan dipadati oleh antusiasme peserta dan penonton yang ikut mencoba langsung unjuk kebolehan fisik dan ketangkasan dalam permainan tersebut. Sesi sore ini kemudian ditutup pada pukul 17.00 WIB dengan agenda foto bersama, sebelum area dibersihkan untuk persiapan puncak acara pada malam hari.

Sesi Malam Puncak Panggung Hiburan Rakyat dan Sastra Lisan, Setelah rehat ISOMA kedua, fokus festival sepenuhnya berpindah ke Panggung Utama untuk menggelar Sesi Malam: Hiburan Rakyat & Pertunjukan Seni Tradisional. Pukul 18.30 WIB, pemandu acara (MC) akan membuka suasana malam dengan menyapa ribuan warga yang diperkirakan memadati lokasi acara.

Daya tarik utama malam kebudayaan ini dimulai pukul 19.00 WIB lewat Penampilan Istimewa Musik Krilu oleh Maestro. Alat musik tiup tradisional berbahan bambu ini akan dimainkan dengan keahlian tingkat tinggi, mengalunkan nada-nada etnik yang sarat magis. Keheningan malam kemudian akan disambung oleh petikan dawai merdu dalam Pertunjukan Seni Gitar Tunggal pada pukul 20.15 WIB.

Sebagai penutup rangkaian sastra, pada pukul 20.30 WIB, seniman tutur akan menampilkan Sastra Lisan Berejung. Tradisi lisan berupa penyampaian syair dan pantun berbahasa Rejang ini menjadi penanda sakral dari komitmen masyarakat Lebong dalam menjaga warisan identitas kultural mereka agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.  Demikian Kepala Dinas Pendidikan dan kebudayaan kabupaten Lebong Indra Gunawan SPI.,MSi. (RMF-NikBong)

Follow Portal Bermano di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *