Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Lebong, Tantomi menyampaikan, normalisasi sungai di lokasi Dam Sabo dilakukan karena kondisi sungai Air Kotok telah mengalami sedimentasi.
Dikhawatirkan jika hujan kembali mengguyur akan menggenangi pemukiman penduduk serta Merusak Ribuan Hektar lahan persawahan warga seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.

“Dalam rangka penanggulangan banjir akibat tanggul dan sabo jebol, agar air yang mengandung belerang tidak sampai ke lahan persawahan warga, dan bila air yang mengandung belerang tersebut sampai masuk ke lahan warga maka tanaman akan keracunan dan mati, dan lahan perlu waktu lama untuk menetralkan kembali agar bisa ditanam,” kata Tantomi, Sabtu (1/4) siang.
Dia menambahkan, kondisi Dam Sabo yang jebol diperburuk material yang kian menumpuk ditanggapi serius oleh Bupati Lebong, Kopli Ansori. Sebab, dikhawatirkan berdampak pada program musim tanam kedua (MT2) Lebong.
Di sisi lain, ia mengaku, Pemkab Lebong telah melaporkan kepada BWS Sumatera VII selaku memiliki kewenangan DAM Sabo. Terlebih lagi, kejadian ini sudah berulang kali terjadi tiap tahun di sekitar lokasi.

Hasil disepakati, Pemkab dibantu pihak swasta melakukan tindakan jangka pendek, yakni normalisasi sungai dengan menggunakan alat berat.
“Sudah dikoordinasikan dengan BWS dan Kamis kemaren sudah meninjau langsung ke lokasi. Mereka juga akan mencatat solusinya. Namun, penanganan jangka panjangnya tidak langsung segera karena terkait pelaksanaan anggaran. Mulai dari perencanaan, penganggaran, dan sebagainya,” ucapnya.
Tantomi meneruskan, musibah banjir terjadi dimana-mana. Salah satunya banjir sepanjang aliran Sungai Air Kotok yang terjadi di Desa Karang Anyar Kecamatan Lebing Tengah, Desa Nangai Amen dan Kampung Muara Aman Kecamatan Lebong Utara.
Mengingat ini persoalan urgent, BPBD Lebing juga tengah menggagas pengajuan program usulan ke provinsi serta pusat untuk membangun talud secara permanen.
Hal ini bukan tanpa alasan. Sebab dengan potensi sungai yang kemudian akan meluap sehingga dampaknya akan sangat dirasakan oleh masyarakat.
Lahan perkebunan dan pertanian akan tergenang sehingga kerugian yang ditimbulkan juga akan semakin besar.
“Ini juga dalam rangka tanggap darurat selama 2 minggu ke depan,” demikian Tantomi.(Alexander)




















1 komentar