Sentuh Tanahku : Cara Baru Rakyat Menyapa Tanahnya Sendiri

Oleh: Tabri Z.,S.Sos.,ST 

Di sebuah pagi yang tenang di Kabupaten Lebong, Bengkulu, ketika embun masih bertahan di ujung daun kopi dan suara alam lebih nyaring dari lalu lintas digital, sebuah aplikasi menyelinap masuk ke dalam ruang percakapan masyarakat—bukan sebagai gangguan, tapi sebagai jembatan. Namanya: Sentuh Tanahku.

Aplikasi ini, buatan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, seolah ingin berkata: Tanah bukan hanya warisan, tapi juga akses. Dan akses itu kini harus mudah, ringan, dan transparan.

“Dulu, masyarakat harus datang ke kantor, antre panjang, dan kadang pulang dengan kecewa. Sekarang cukup sentuh layar ponsel, dan informasi hak atas tanah bisa diakses kapan saja,” kata Tabri Z. S.Sos, S.T, Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Lebong, sambil menunjuk layar ponselnya yang menampilkan antarmuka aplikasi.

Tabri bukan bicara sebagai birokrat. Ia lebih seperti penyair tanah, yang percaya bahwa setiap jengkal bumi punya puisi yang patut dibacakan warganya sendiri. “Aplikasi ini bukan hanya alat. Ia adalah kehadiran negara di saku rakyat,” katanya lirih, nyaris seperti kutipan dari sebuah esai.

Akses yang Menyapa, Bukan Mengintimidasi

Sentuh Tanahku memungkinkan siapa saja memeriksa status bidang tanah, melihat peta, bahkan mengajukan layanan pertanahan secara digital. Di dalamnya, tak ada bahasa rumit. Yang ada hanya undangan untuk percaya bahwa tanah dan warga bisa berdialog, tanpa meja birokrasi yang berdebu.

“Digitalisasi ini bukan sekadar soal efisiensi,” ujar Tabri, menekankan kalimatnya. “Ini adalah cara baru membangun kepercayaan. Masyarakat bisa tahu apa yang sedang dikerjakan negara terhadap tanah miliknya—tanpa rasa curiga, tanpa bayangan pungli.”

Ia menambahkan, “Lewat aplikasi ini, kami ingin menegaskan bahwa keadilan agraria bukan mimpi, tapi proses yang terus kami upayakan dengan transparansi.”

Ketika Teknologi Menjadi Bahasa Keadilan

Di Kabupaten Lebong, tanah bukan hanya ruang. Ia adalah sejarah, rumah, ladang, bahkan kadang satu-satunya warisan yang bisa ditinggalkan seorang ayah kepada anaknya. Maka ketika aplikasi ini dikenalkan, masyarakat awalnya ragu. Tapi seperti daun yang lama-lama basah oleh embun, kepercayaan pun tumbuh perlahan.

“Saya sempat tak percaya. Tapi waktu saya bisa lihat sendiri petakan tanah saya lewat HP, saya mulai merasa tenang,” kata Sandi, seorang pengunjung loket Pelayanan BPN Kabupaten Lebong. “Biasanya urusan tanah bikin stres. Sekarang tinggal buka Sentuh Tanahku, semua lebih jelas.” ucap dia

Aplikasi yang Membuka Cakrawala Baru

Namun bukan berarti semua berjalan mulus. Tabri tak menampik bahwa tantangan digitalisasi di daerah masih besar—akses internet yang tidak merata, kemampuan digital warga yang belum setara, dan resistensi terhadap perubahan.

“Ini bukan revolusi sekali jadi,” katanya. “Ini kerja panjang, dan kadang sunyi. Tapi seperti menanam kopi di lereng, hasilnya akan terasa nanti. Dan kami sabar.”

Sentuh Tanahku: Sebuah Janji yang Tak Sekadar Digital

Di balik semua layar dan data itu, ada satu hal yang tetap dipertahankan: rasa hormat pada tanah. Karena tanah, dalam pandangan Tabri dan timnya, bukan sekadar aset, tapi ruang hidup, ruang bermimpi.

“Ketika negara hadir lewat aplikasi,” katanya di ujung wawancara, “itu bukan berarti kita mengganti sentuhan manusia. Tapi kita memastikan bahwa sentuhan itu tak pernah menghilang, hanya berpindah dari meja kantor ke jari rakyat.”

Dan mungkin, di sinilah aplikasi itu menemukan maknanya: sebagai teknologi yang tidak menjauhkan, tapi justru mendekatkan—tanah kepada pemiliknya, dan negara kepada warganya.

(Penulis adalah Kepala Kantor ATR/BPN kabupaten Lebong) 

Follow Portal Bermano di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar