Pewarta : Rudhy Muhammad Fadhel.
Lebong. PortalBermano.com – Untuk mengantisipasi kekeringan imbas dari dampak pemanasan global atau El-Nino, Bupati Lebong, Kopli Ansori mengajak seluruh jajaran Pemerintah desa dan masyarakat Pro aktife mengantisifasi segala kemungkinan.
Menurut Bupati Lebong Kopli Ansori, Dampak dan Imbas dari El-Nino mulai dari terjadinya pemanasan global dan bahaya kebakaran hutan serta kekeringan pada sumber sumber Air, Baik itu sumber air untuk sector pertanian maupun kebutuhan masyarakat sehari hari (air bersih).

Hal ini disampaikan Bupati Lebong, Kopli Ansori di sela-sela panen raya Musim Tanam Kedua (MT2) di Desa Nangai Tayau 1 Kecamatan Amen, Kamis (5/10).
“Saya meminta kepada seluruh jajaran pemerintah desa dan segenap lapisan masyarakat Kabupaten Lebong, Untuk terlibat dan pro aktife mengantisifasi dampak dan imbas dari El-Nino.” Tegas Kopli Ansori
Ditambahkannya, Pemerintah desa hendaknya mempersiapkan sarana dan prasarana untuk mengangkut air seperti Tangki (tedmon) dan memaksimalkan kendaraan desa ,Dan yang paling penting selain dari itu yakni , Hendaknya seluruh masyarakat segera turun tanam kembali, Mengingat jangan sampai kita terdampak pada kekeringa.
“Kalau prediksi kemarau berakhir di bulan Maret, artinya pada bulan Januari terjadi puncaknya kekeringan . Namun untuk sa’at ini kita masih dapat melihat bahwa wilayah sumber air yang ada masih mampu mengaliri lahan persawahan hingga padi berusia 2 bulan atau lebih, sehingga jika seluruh masyarakat segera turun tanam serentak pada bulan November ini maka Kita yakin petani masih bisa panen,” jelas kopli Ansori

Politisi PAN ini mengungkapkan, di daerah tersebut terlihat masih terdapat air yang mengairi lahan pertanian milik warga. Meskipun, sejumlah titik mengalami kekeringan.
Dalam kesempatan tersebut bupati mengajak semua pihak untuk bergotong royong menyelesaikan permasalahan kekeringan, mengingat Kabupaten Lebong banyak Daerah Aliran Sungai (DAS).
“Potensi sumber daya air untuk mengairi persawahan dalam satu sampai dua bulan ini masih ada. Namun, masih ada juga daerah yang berdampak mengalami kekeringan. Tapi tidak semuanya. Ada 60 persen yang masih teraliri air,” ungkap Kopli.
Menurut Kopli, jadwal turun tanam serentak pada bulan November mendatang adalah salah satu upaya untuk antisipasi terjadinya gagal panen karena kekeringan pada musim berikutnya.
“Kenapa saya minta bulan November ini. Karena potensi air masih ada. Kalau dua bulan, sawah masih teraliri air, saya pastikan masyarakat akan ikut panen. Tetapi, ketika sawah sebulan tanpa air, maka dipastikan gagal panen. Tetapi, sebaliknya kalau kita turun bulan 11, potensi air masih ada,” demikian Kopli. (Alexander)















