Pewarta : Rudhy Muhammad Fadhel
Lebong, PortalBermano.com – Pemerintah Kabupaten Lebong melalui Dinas Kesehatan secara resmi meluncurkan program Pertemuan Orientasi Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) di Sekolah, Rabu (14/10/2026). Langkah strategis ini diinisiasi sebagai bentuk respons preventif dan kuratif terhadap dinamika isu kesehatan mental (mental health) yang kian kompleks di kalangan remaja, khususnya pada tingkat sekolah menengah atas.

Acara intervensi psikososial ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebong, Rachman, SKM., M.KM., M.Si. Program ini secara khusus melibatkan dua elemen krusial yang berada di garda terdepan pelayanan remaja, yakni para Pengelola Program di Puskesmas/Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) serta Guru Bimbingan Konseling (BK) tingkat SMA se-Kabupaten Lebong.

Dalam pidato pembukaannya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebong, Rachman, menegaskan pentingnya membangun sistem pendukung (support system) yang kuat di lingkungan terdekat remaja.
“Kesehatan mental adalah fondasi dari produktivitas dan indeks pembangunan manusia. Melalui orientasi P3LP ini, kami ingin memastikan bahwa sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, melainkan sebuah ekosistem yang peka terhadap kondisi psikologis siswa. Kita tidak boleh terlambat mendeteksi distres emosional pada anak-anak kita. Oleh karena itu, sinergi antara Guru BK dan petugas Puskesmas hari ini adalah instrumen krusial untuk mewujudkan masyarakat Lebong yang maju, sehat secara holistik, dan berdaya saing tinggi,” ujar Rachman dalam keterangannya kepada media.

Secara akademis, urgensi program ini turut diamini oleh penanggungjawab program kesehatan jiwa dan Napza Dinas esehatan provinsi Bengkulu Novlis Yuani, SKM.,MKM., yang menyoroti pentingnya konsep psychological first aid di ranah institusi pendidikan formal. Menurutnya, fase remaja merupakan periode transisi yang rentan terhadap guncangan identitas dan tekanan sosial.
“Luka psikologis, jika dibiarkan tanpa penanganan awal yang tepat, berpotensi mengkristal menjadi gangguan mental yang lebih menetap, seperti depresi klinis atau gangguan kecemasan akut. Pendekatan P3LP ini sangat tepat dari sudut pandang psikologi komunitas. Dengan melatih Guru BK sebagai first-line detector, sekolah dapat memberikan intervensi validasi emosional dan stabilitas psikologis awal sebelum siswa membutuhkan penanganan klinis lebih lanjut di Puskesmas,” urai Novlis Yuani.

Sinergi lintas sektor yang digagas Dinas Kesehatan Kabupaten Lebong ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan (gap) sistem rujukan kesehatan mental di daerah. Melalui implementasi P3LP yang terstruktur dan berwawasan lingkungan ini, pemerintah daerah berkomitmen menciptakan ekosistem pendidikan yang aman secara psikologis (psychologically safe environment) demi proteksi masa depan generasi muda di Kabupaten Lebong. Langkah strategis ini diinisiasi sebagai bentuk respons preventif dan kuratif terhadap dinamika isu kesehatan mental (mental health) yang kian kompleks di kalangan remaja, khususnya pada tingkat sekolah menengah atas.
Acara intervensi psikososial ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebong, Rachman, SKM., M.KM., M.Si. Program ini secara khusus melibatkan dua elemen krusial yang berada di garda terdepan pelayanan remaja, yakni para Pengelola Program di Puskesmas/Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) serta Guru Bimbingan Konseling (BK) tingkat SMA se-Kabupaten Lebong.
Dalam pidato pembukaannya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebong, Rachman, menegaskan pentingnya membangun sistem pendukung (support system) yang kuat di lingkungan terdekat remaja.
“Kesehatan mental adalah fondasi dari produktivitas dan indeks pembangunan manusia. Melalui orientasi P3LP ini, kami ingin memastikan bahwa sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, melainkan sebuah ekosistem yang peka terhadap kondisi psikologis siswa. Kita tidak boleh terlambat mendeteksi distres emosional pada anak-anak kita. Oleh karena itu, sinergi antara Guru BK dan petugas Puskesmas hari ini adalah instrumen krusial untuk mewujudkan masyarakat Lebong yang maju, sehat secara holistik, dan berdaya saing tinggi,” ujar Rachman dalam keterangannya kepada media.
Secara akademis, urgensi program ini turut diamini oleh pakar psikologi perkembangan anak dan remaja, Dr. Rian Utomo, M.Psi., yang menyoroti pentingnya konsep psychological first aid di ranah institusi pendidikan formal. Menurutnya, fase remaja merupakan periode transisi yang rentan terhadap guncangan identitas dan tekanan sosial.
“Luka psikologis, jika dibiarkan tanpa penanganan awal yang tepat, berpotensi mengkristal menjadi gangguan mental yang lebih menetap, seperti depresi klinis atau gangguan kecemasan akut. Pendekatan P3LP ini sangat tepat dari sudut pandang psikologi komunitas. Dengan melatih Guru BK sebagai first-line detector, sekolah dapat memberikan intervensi validasi emosional dan stabilitas psikologis awal sebelum siswa membutuhkan penanganan klinis lebih lanjut di Puskesmas,” urai Dr. Rian.
Sinergi lintas sektor yang digagas Dinas Kesehatan Kabupaten Lebong ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan (gap) sistem rujukan kesehatan mental di daerah. Melalui implementasi P3LP yang terstruktur dan berwawasan lingkungan ini, pemerintah daerah berkomitmen menciptakan ekosistem pendidikan yang aman secara psikologis (psychologically safe environment) demi proteksi masa depan generasi muda di Kabupaten Lebong. (RMF-NikBong)



















