Diskusi ilmiah Dan Musyawarah Ku Dengan Hati, Agar Akal Dan Pikirku Bisa Berdamai Dengan Hati.

Opini18 Dilihat

Penulis Rudhy Muhammad Fadhel.

Lebong  10 Rabiul Awal 1448 H/ 23 Agustus 2026 

Mencermati prilaku bermedia sosial keluarga satu Nabiku asalku akhir akhir ini, Mengingatkan aku akan catatan Strategi da’wah aku pernah menulisnya dari materi yang pernah disampaikan sa’at mengikuti pelatihan Da’wah pola 2000 jam disalah satu Yayasan Masjid seputaran kota Bekasi Jawa Barat September 1996.

Komunikator (Da’i) yang menyampaikan materi Stratak (strategi dan taktik) sa’at itu adalah komunikator (Da’i) muda yang beberapa tahun usianya diatas ku dan sa’at ini terdengar kabar sudah berdomisili di Bandung dan menikah lagi.

Aku tidak ingin membahas tentang diri Komunikator (Da’i) tersebut, akan tetapi tehnik pesan dan proses penyampaian pesan-pesan ajaran Islam (Al-Qur’an dan Sunnah) oleh komunikator (Dai) kepada kami sa’at itu (komunikan/Mad’u).

Dengan menggunakan cara tertentu yang khas Komunikator (Da’i) tersebut dapat menyampaikan pesan pesan Al-qur’an, Dengan tujuan agar penerima pesan memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Gambaran perintah ini adalah didasarkan kepada Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 125, dimana terdapat tiga metode utama diterapkan oleh komunikator (Da’i) muda tersebut dalam menyampaikan pesan Al-Qur’an (Islam) hingga tersampaikan dengan nyaris sempurna kepada kami sa’at itu (komunikan/Mad’u) dan meski belum semua berhasil diterapkan akan tetapi sulit untuk dilupakan.

Yang pertama, Al-Hikmah (Bijaksana)

Pendekatan yang bijaksana dan tepat sasaran.

Menyesuaikan isi pesan dengan kondisi, tingkat pemikiran, serta psikologi pendengar.

Menyampaikan kebenaran dengan cara yang halus dan tidak menyinggung.

Yang kedua adalah, Mau’idzah Hasanah (Pengajaran yang Baik)

Memberikan nasihat, teladan, atau bimbingan yang menyentuh hati.

Berisi pesan kebaikan, motivasi, serta pengingat tentang ajaran agama yang mudah diterima.

Menghindari nada meremehkan atau mencela pihak lain.

Sementara yang ketiga,  Mujadalah bi al-Lati Hiya Ahsan (Diskusi yang Baik)

Melakukan dialog atau tukar pikiran secara sehat.

Menggunakan argumen yang logis, objektif, dan santun.

Bertujuan mencari kebenaran bersama, bukan untuk mencari kemenangan atau menjatuhkan lawan bicara

Dari sepercik catatan tersebut dapatlah diambil kesimpulan bahwa, Dalam ilmu komunikasi dakwah (menyampaikan pesan Al-Qur’an), para ahli memadukan prinsip komunikasi umum dengan nilai-nilai Islam untuk menganalisis bagaimana pesan disampaikan secara efektif.

Seperti teori komunikasi da’wah diantaranya adalah teori Jarum Hipodermik (Suntikan), Yang mana mengasumsikan media dakwah memiliki kekuatan penuh. Pesan langsung memengaruhi perilaku jamaah secara instan.

Lalu teori kultivasi, dimana Fokus pada paparan media dakwah jangka panjang. Konten islami yang ditonton terus-menerus membentuk pandangan hidup jamaah.

Selanjutnya teori Uses and Gratifications (teori komunikasi massa yang menyatakan bahwa manusia aktif memilih media untuk memenuhi kebutuhan psikologis dan sosial mereka, bukan pasif menerima pesan), Yang menempatkan jamaah sebagai pihak aktif. Mereka memilih media dakwah tertentu untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya.

Kemudian teori agenda setting Yaitu dengan menggunakan media dakwah mengarahkan fokus perhatian publik. Isu yang sering dibahas mubaligh menjadi topik utama di masyarakat.

Terus teori Difusi Inovasim Dimana menjelaskan bagaimana nilai-nilai baru atau pemahaman Islam moderat diterima dan disebarkan dalam komunitas.

Lebih lanjut adalah pendekatan ilmu komunikasi da’wah dengan pendekatan Al-Qur’an (Normatif), Dengan menggunakan metode komunikasi langsung dari teks ayat suci, Contohnya konsep Qaulan Sadida (jujur) atau Qaulan Baligha (efektif).

Dan yang tidak kalah hebatnya adalah pendekatan Psikologis, Memahami kondisi kejiwaan, emosi, dan tingkat kedewasaan jamaah (lawan bicara).

Kemudian dengan pendekatan Sosiologis, Memperhatikan struktur sosial, budaya, adat istiadat, dan status ekonomi masyarakat target Pesan Al-Qur’an yang ingin disampaikan. Lalu apabila sudah melakukan pendekatan Sosiologis maka akan lebih sempurna bila dipadukan dengan pendekatan komunikasi Budaya (Kultural), Yaitu memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam tradisi lokal tanpa merusak esensi ajaran agama.

Dari beberapa hal catatan tersebut diatas Al-Qur’an menyebutkan 6 gaya bicara (Qaulan) sebagai panduan komunikasi dakwah yang efektif, santun, dan tepat sasaran.

6 Gaya Bicara dalam Al-Qur’an Qaulan Sadida (Pembicaraan yang Benar), Menyampaikan informasi secara jujur, akurat, objektif, dan tidak memanipulasi fakta.

Qaulan Baligha (Pembicaraan yang Efektif), Menggunakan kata-kata yang fasih, jelas, menyentuh hati, dan sesuai dengan tingkat pemahaman pendengar.

Qaulan Ma’rufa (Pembicaraan yang Baik), Berbicara dengan kalimat yang santun, pantas secara sosial, penuh tata krama, dan membawa kemaslahatan.

Qaulan Karima (Pembicaraan yang Mulia), Gaya bicara penuh hormat, memuliakan orang lain, lembut, dan tidak merendahkan (terutama kepada orang tua).

Qaulan Layyina (Pembicaraan yang Lembut), Berbicara dengan suara yang tenang, ramah, tidak menghujat, bahkan saat menghadapi penguasa zalim atau penentang.

Qaulan Maysura (Pembicaraan yang Melegakan), Memberikan jawaban yang mudah dipahami, optimis, menyenangkan, dan memberikan solusi spiritual jika tidak bisa membantu secara material.

Kesimpulan akhir, Dikehidupan nyata strategi ini sangat mumpuni, akan tetapi dapatkah strategi penyampaian pesan Al-Qur’an ini diterapkan dalam perilaku bermedia sosial ditengah masyarakat ?

Jawabannya, Bisa jika kita mau dan mari kita mulai dengan lapaz “Bassmallaah” Bismillaahirrahmanirrahiim.

Follow Portal Bermano di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *