Pewarta: Rudhy Muhammad Fadhel
Lebong, PortalBermano.com – Pemerintah Kabupaten Lebong menggelar acara adat Doa untuk para Leluhur yang dirangkai dengan Ritual Muang Apem. Kegiatan sakral yang sarat akan nilai budaya ini dipusatkan di Dam Sabo Pasir Lebar, Kecamatan Bingin Kuning Kamis (15/10).

Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Lebong, Wakil Bupati Lebong, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lebong. Kehadiran para pucuk pimpinan daerah ini menegaskan komitmen pemerintah dalam melestarikan warisan leluhur dan menjaga tradisi kebudayaan lokal di Bumi Swarang Patang Stumang.
Komitmen Pemkab Lebong dalam Menjaga Warisan Leluhur, Dalam kesempatan tersebut, Bupati Lebong H. Azhari, S.H., M.H. menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata dalam merawat identitas daerah.

“Ritual ini bukan sekadar rutinitas seremonial tahunan, melainkan fondasi spiritual dan budaya yang mengikat kita semua sebagai masyarakat Lebong. Pemkab Lebong berkomitmen penuh untuk memastikan bahwa warisan leluhur yang sarat akan nilai-nilai luhur ini tidak hilang tergerus zaman, melainkan terus hidup sebagai identitas yang membanggakan,” ujar Bupati Azhari.
Selain unsur pimpinan daerah seperti ketua DPRD kabupaten Lebong Carles Ronsen,S.Sos., kegiatan adat ini juga diikuti secara antusias oleh jajaran pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lebong. Tampak hadir sebagai peserta kegiatan di antaranya para Staf Ahli Bupati, Asisten Setda, seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), hingga seluruh Kepala Bagian (Kabag) di lingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Lebong.

Khidmat Doa Bersama dan Simbol Penyucian Air, Ritual Muang Apem yang menjadi bagian inti dari acara Doa untuk para Leluhur ini berlangsung dengan khidmat. Tradisi ini digelar sebagai bentuk rasa syukur sekaligus permohonan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar masyarakat Kabupaten Lebong, khususnya di wilayah Kecamatan Bingin Kuning, senantiasa diberikan keselamatan, keberkahan, serta dijauhkan dari segala marabahaya.
Pemilihan Dam Sabo Pasir Lebar Petilasan Bingin Kuning sebagai lokasi acara juga menambah kekhasan ritual, di mana aliran air menjadi simbol penyucian dan keberlangsungan kehidupan bagi masyarakat agraris setempat. Melalui momentum ini, Pemerintah Kabupaten Lebong berharap nilai-nilai luhur kebersamaan dan gotong royong yang terkandung dalam ritual adat dapat terus dijaga oleh generasi muda di tengah arus modernisasi.
Kegiatan tahunan masyarakat Lebong menggelar tradisi adat Doa untuk para Leluhur yang dirangkai dengan Ritual Muang Apem di Dam Sabo Pasir Lebar, Kecamatan Bingin Kuning. Pemilihan lokasi di petilasan Keramat Bingin Kuning ini berkaitan erat dengan legenda tenggelamnya Dusun Tras Mambang serta asal-usul tradisi Kedurai Apem sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Asal-Usul Muang Apem, Misteri dan Legenda Dusun Tras Mambang, Tradisi Kedurai Muang Apem bukanlah sekadar perayaan adat tanpa makna, melainkan sebuah ritual sosio-filosofis yang berakar kuat pada memori kolektif Suku Rejang di Lebong. Konon, menurut penuturan turun-temurun, di kawasan yang kini menjadi hamparan pasir Dam Sabo (Benei Libea), dahulunya berdiri sebuah desa makmur bernama Dusun Tras Mambang.
Berdasarkan cerita rakyat setempat, kedamaian dusun tersebut seketika berubah akibat sebuah peristiwa mistis yang melibatkan tokoh sakti bernama Tahta Sekilan Teguling Sakti. Akibat tancapan tongkat sakti yang memicu semburan mata air raksasa diiringi badai dahsyat, Dusun Tras Mambang akhirnya tenggelam dan lenyap dari peradaban.
Masyarakat dari empat desa penyangga saat ini—yaitu Desa Semelako, Bungin, Pungguk Pedaro, dan Karang Dapo—meyakini bahwa leluhur mereka berasal dari dusun yang tenggelam tersebut. Di lokasi bencana itulah kini tumbuh sebuah pohon beringin berdaun kuning keramat yang menjadi asal-usul nama kawasan Bingin Kuning.
Filosofi Tolak Bala Jelang Musim Tanam Padi, Bupati H. Azhari juga menambahkan pandangannya mengenai makna filosofis di balik pelaksanaan tradisi ini yang dikaitkan dengan sektor pertanian masyarakat.
“Ketika kita melakasanakan muang apem ini, ada pesan mendalam tentang kerendahan hati dan permohonan maaf kepada Sang Pencipta, sekaligus doa agar musim tanam padi di bulan Oktober ini membawa keberkahan. Kita mengetuk pintu langit agar hasil panen melimpah dan masyarakat kita dijauhkan dari segala marabahaya serta hama tanaman,” tambahnya.
Makna Spiritual dan Sakralitas 44 Kue Apem, Dari berbagai sumber lainnya diketahui bahwa Makna Ritual dan Jumlah 44 Kue Apem antara lain, Pertama Simbol Permohonan Ampunan (Afwun): Secara etimologi, kata apem diserap dari istilah bahasa Arab, afwun atau afuwwun, yang berarti mohon ampunan atau maaf. Nilai Islami ini berakulturasi dengan budaya lokal Suku Rejang sebelum mereka turun ke sawah untuk menanam padi pada setiap bulan Oktober. Ritual ini menjadi simbol permohonan restu kepada Sang Pencipta agar tanaman padi masyarakat terhindar dari hama (tolak bala) serta diberkahi hasil panen yang melimpah.
Kedua Persatuan Desa dan Gotong Royong, Dalam prosesi adat yang dipimpin oleh tetua adat (Kutai/Kuncen) asal Desa Semelako, terdapat syarat sakral berupa penyediaan 44 buah kue apem khusus. Hidangan ini terdiri dari 4 kue apem ukuran besar (melambangkan persatuan 4 desa pendiri) dan 40 kue apem ukuran kecil. Setelah dibacakan doa keselamatan dan disucikan di aliran air pancuran, kue-kue tersebut kemudian dilarung (dimuang) sebagian ke air sebagai bentuk penghormatan sejarah, sementara sisanya dimakan bersama-sama oleh warga secara gotong-royong. (RMF-NikBong)



















