Pewarta : Rudhy Muhammad Fadhel.
Lebong. PortalBermano.com – Antisifasi Bencana Pemkab Lebong pinjam alat berat untuk normalisasi Tanggul DAM Sabo.
Normalisasi dilakukan di Sungai Air Kotok tepatnya di kawasan Dam Sabo oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebong melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebong, dengan meminjam alat berat perusahaan yang tergabung dalam Forum Tanggung Jawab Sosial Lingkungan Perusahaan (TJSLP) atau forum CSR.

Proses normalisasi dipantau langsung Bupati Lebong, Kopli Ansori melalui Wakil Bupati (Wabup) Lebong, Fahrurozi didampingi Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD, Rengki Anggara di lokasi pada Senin (29/7) pagi sekitar pukul 09.00 WIB.

Wabup Lebong, Fahrurozi menyebutkan, normalisasi Tanggul Dam Sabo dilakukan karena kondisi Tanggul terancam rusak berat (Nyaris Jebol) dampak dari tergerus oleh aliran sungai Air Kotok telah mengalami sedimentasi.Dikhawatirkan jika hujan kembali mengguyur akan menggenangi pemukiman penduduk seperti yang terjadi di setiap tahun lalu.
“Sebenarnya jika kita berbicara ini kewenangan BWS VII. Tapi, kita lihat penumpukkan materialnya sudah banyak dan kerusakan Tanggul sudah parah. Makanya kita segera tangani untuk menghindari bencana,” ujar Wabup, Senin (29/7).
Dia menambahkan, kondisi Dam Sabo yang nyaris jebol diperburuk material yang kian menumpuk ditanggapi serius oleh Bupati Lebong, Kopli Ansori. Sebab, dikhawatirkan berdampak pada program musim tanam kedua (MT2) Lebong.
“Ini yang kita kerjakan (antisipasi) sekarang. Lebong masuk daerah rawan banjir. Termasuk daerah Kecamatan Bingin Kuning. Jadi, kondisi ini ada yang bisa kita tangani, dan ada yang tidak. Kita mendapatkan informasi dari kecamatan bahwa Dam kembali Jebol, makanya kita suruh tim BPBD turun,” sebutnya.
https://portalbermano.com/menuju-transformasi-pelayanan-kesehatan-primer-pemkab-lebong-gelar-advokasi-dan-kordinasi/
Mengingat ini persoalan urgent, BPBD Lebong juga tengah menggagas pengajuan program usulan ke provinsi serta pusat untuk membangun talud secara permanen.
Hal ini bukan tanpa alasan. Sebab dengan potensi sungai yang kemudian akan meluap sehingga dampaknya akan sangat dirasakan oleh masyarakat.
Lahan perkebunan dan pertanian akan tergenang sehingga kerugian yang ditimbulkan juga akan semakin besar, apalagi air sungai yang mengandung belerang (Sulfur) jika masuk ke aliran Irigasi dampaknya Ribuan hektar lahan persawahan akan rusak.
“Lah ini yang kita lakukan. Jangan sampai terjadi. Pihak balai sendiri sudah tahu. Kita sudah sampaikan, apalagi Dam Sabo ini sebagai tempat bendungan,” pungkasnya. (Alexander)



















