Fokus Karya, Abaikan Kebisingan & Menolak tenggelam dalam polemik
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Bismillahirrahmaanirrahiim
(Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang)
١. وَالْعَصْرِۙ
Wal-‘asr
- Demi masa,
٢. اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ
Innal-insāna lafī khusr
- Sungguh, manusia berada dalam kerugian,
٣. اِلَّا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Illallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr
- Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran
Seorang pemimpin laksana seorang nahkoda yang menakhodai kapal besar di samudra luas. Tugas utamanya adalah menatap bintang kompas, membaca peta, dan memastikan seluruh awak kapal bekerja selaras demi membawa ribuan penumpang menuju dermaga impian. Di sepanjang perjalanan, deburan ombak yang menghantam lambung kapal dan siulan angin malam adalah hal yang tak terhindarkan.
Jika sang nahkoda harus menghentikan laju kapal dan keluar ke geladak hanya untuk memarahi setiap ombak yang datang atau meretorisasi angin yang bersiul, maka kapal itu akan terombang-ambing, kehilangan arah, dan terancam karam. Ombak dan angin riuh itu adalah metafora dari celotehan kritik yang tidak mendasar. Seorang nahkoda yang bijak tahu bahwa ombak tidak perlu dilawan dengan kata-kata, melainkan direspons dengan ketenangan memutar kemudi.
Menolak tenggelam dalam polemik yang sia-sia adalah bentuk tertinggi dari kearifan seorang pemimpin. Ketika seorang pemimpin terlalu sibuk menoleh pada setiap batu yang dilemparkan ke arahnya, ia laksana seorang arsitek yang menghentikan pembangunan menara agung hanya karena terganggu oleh gonggongan aneh di kaki fondasi. Jika perhatian sang arsitek teralih pada kebisingan di bawah, cetak biru bangunan akan terlupakan, semen akan mengering tanpa bentuk, dan menara peradaban tidak akan pernah menjulang ke langit. Energi kepemimpinan terlalu sakral jika habis terbakar dalam perdebatan tanpa dasar, sementara di luar sana, ruang-ruang kehidupan masyarakat membutuhkan sentuhan kebijakan yang presisi.
Memilih diam terhadap kritik yang tidak mendasar bukanlah tanda kelemahan atau keangkuhan. Itu adalah manifestasi dari kedewasaan filosofis, sebuah kesadaran bahwa tugas utama pemerintah adalah merajut kepastian, mengairi ladang-ladang kemakmuran, dan memastikan api di dapur rakyat tetap menyala. Ia laksana seorang gembala yang tetap berjalan menuntun kawanan dombanya menuju padang rumput yang hijau, mengabaikan semak berduri yang mencoba mencabik jubahnya atau suara-suara sumbang dari kejauhan yang mencoba membuyarkan barisan.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan pernah mencatat siapa yang paling mahir bersilat lidah di mimbar publik, atau siapa yang paling rajin membantah kegaduhan. Sejarah adalah kitab yang hanya menyisakan halaman bagi mereka yang melahirkan karya nyata dan monumen perubahan. Biarkan kebisingan itu berlalu bersama angin malam yang dingin, dan biarkan senyuman sejahtera di wajah rakyat yang
Dan akhirnya juga, sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling mahir bersilat lidah di mimbar publik. Sejarah hanya menyisakan ruang bagi mereka yang melahirkan karya nyata. Biarkan kebisingan berlalu bersama angin, dan biarkan kemakmuran rakyat yang menjadi jawaban paling puitis atas segala keraguan. menjadi bait puisi jawaban paling megah atas segala keraguan.
Talang Liak 21:35 WIB (5 Oktober 2026)
(RMF-NikBong)















